Bali bukan saja terkenal sebagai tempat yang cantik untuk dikunjungi malah pulau dewata ini juga penuh dengan budaya, adat dan tradisinya yang unik, antara acara tradisi atau upacara yang kerap dilakukan adalah seperti berikut:







Keseluruhan multi festival & budaya serta sejarah Pulau Bali ini boleh dihayati dengan menonton Bali Theater yang bertajuk Ulasan Wisatawan di Agung Theater, Jl. Bypass Prof. Ida Bagus Mantra. Km. 19.8, Bali, Indonesia.
Mengisahkan tentang seorang Raja Bali yanga bernama Erlangga dimana ibunya Rangda telah mengamalkan ilmu hitam dan dikutuk serta ditentang oleh bapanya sendiri. Setelah ibunya menjadi janda, dia memanggil semua roh-roh jahat dan syaitan dari dalam hutan untuk menentang suami dan anaknya. Ilmu hitam ibunya begitu kuat sehingga Erlangga terpaksa meminta bantuan daripada Barong.
Perjuangan pun bermula dengan gabungan antara bala tentera Erlangga dan Barong. Lalu Ibunya Rangda telah menyihir tentera Erlangga menjadi kerasukan lalu menikam keris beracun pada diri sendiri. Melihat keadaan tersebut Barong mula menukar tentera Erlangga menjadi kebal. Akhirnya, Barong telah menang dalam pertarungan tersebut. Rangda (ibunya) melarikan diri ke dalam hutan.

Tarian Barong boleh mengakibatkan seseorang boleh mati atau mendapat cedera parah semasa penghayatannya. Apabila semangat Rangda menjadi terlalu kuat, penari yang lemah mungkin tidak dapat menahan diri dari semangat ini lalu mencederakan diri sendiri dengan keris yang ada di tangannya.
Topeng Barong dan Rangda adalah sangat digeruni maka itu pawang (tok bomoh) akan muncul di akhir persembahan ini bagi menawarkan dan membuang semangat Rangda yang jahat itu dengan menggunakan percikan air suci yang diambil dari Gunung Agung. *mistiknya..!!!*
- Ngaben: Ngaben adalah upacara Pitra Yadnya, merupakan salah satu upacara pembakaran mayat yang bertujuan untuk menyucikan roh orang yang telah meninggal. Tradisi ini masih dilakukan secara turun-temurun oleh hampir semua masyarakat Hindhu di Bali.

- Ngaben tikus di Mengwi: Upacara yang sama seperti Ngaben cuma bezanya dilakukan terhadap tikus, *unik kann.. upacara ini dilakukan bagi memperingati saat wabah tikus mula menyerang pertanian warga di Desa Cemagi, Mengwi suatu ketika dahulu.
- Subak: Istilah subak hanya dikenal di Bali, bagi meraikan sistem pengairan sawah yang digunakan oleh para petani Bali dalam penanaman padi.
- Ngerebong / Ngurek: Tradisi yang biasa dilakukan oleh penganut Hindu khususnya di Pura Pangrebongan, Desa Kesiman, Denpasar. Penganut yang mengikuti ritual ini akan mengalami kerasukan dan ada juga yang berteriak, menangis, mengeram dan menari dengan diiringi muzik tradisional yang dimainkan.

- Megibung: Merupakan salah satu tradisi warisan leluhur, dimana tradisi makan bersama dalam satu wadah.

- Gebug Ende: Ada banyak budaya dan tradisi unik warisan leluhur di Bali, antaranya yang ada di Kabupaten karangasem seperti tradisi megibung, kain geringsing di Tenganan dan Gebug Ende atau Gebug Seraya yang berasal dari Desa Seraya.
- Ter-teran: Satu lagi tradisi unik di Kabupaten Karangasem (di Desa Jasri) adalah perang api atau ter-teran yang menggunakan obor prakpak/bobok (daun kelapa kering yang diikat).
- Mekare – kare: atau Perang Pandan: Di Desa Tenganan Karangasem juga mereka menjalankan upacara Perang Pandan yang merupakan persembahan bagi menghormati Dewa Indra (dewa perang) dan para leluhur dengan menggunakan senjata pandan berduri sebagai senjata masing-masing.
- Perang Pisang: Upacara perang pisang ini digelar sebagai pelataran pura Bale Agung, desa Tenganan Daud Tukad, dalam rangka pelantikan ketua dan wakil ketua pemuda setempat diikuti oleh 16 pemuda desa yang terpilih untuk berlawankan dengan 2 orang (calon ketua dan wakil).
- Omed – omedan: Tradisi unik di desa Sesetan ini hanya dilakukan oleh mereka yang masih bujang, adegan tarik menarik dan bercumbu ini, dirayakan selepas Hari Raya Nyepi.

- Mekotek: Upacara ini adalah bertujuan untuk memohon keselamatan. Dirayaikan pada setiap hari Raya Kuningan yang juga merupakan warisan budaya leluhur turun temurun oleh hampir 15 banjar di Desa Munggu kecamatan Mengwi, Badung.

- Pemakaman di Trunyan: Pemakaman mayat di Desa Trunyan sehingga kini masih mejadi tradisi yang dilakukan secara turun temurun oleh warga tempatan. Kebiasaannya orang meninggal di Bali akan dikubur atau pun dibakar. Namun tidak di desa Trunyan, tubuh orang yang sudah meninggal akan melalui upacara ini.
- Perang Ketupat: Dirayakan sekali dalam setahun di desa Kapal, Kabupaten Badung. Proses upacara ini adalah sebagai tanda terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil pertanian disamping berdoa memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi umat manusia.

- Ngusaba Bukakak: Hanya ada di Bali Utara di desa Adat Sangsit, Kecamatan Sawan, Buleleng. Upacara Bukakak ini bertujuan untuk melakukan permohonan kepada Sanghyang Widhi Wasa dalam manifestonya sebagai Dewi Kesuburan.
- Mesuryak: Upacara dengan melemparkan duit kertas ini digelar bertepatan pada Hari Raya Kuningan (10 hari setelah Galungan) setiap 6 bulan sekali, dengan tujuan untuk memberikan persembahan ataupun bekal pada penganutnya yang turun pada hari raya Galungan dan kembali ke Nirwana pada hari raya Kuningan

- Upacara Ngedeblag: Tradisi Ngedeblag hanya dilakukan di desa Pekraman Kemenuh, Kec. Sukawati, Gianyar. Proses ini diraikan pada setiap Hari Kajeng Kliwon menjelang peralihan sasih kelima dan sasih keenam (kalender Bali) yang digelar sekali dalam setahun.
- Ritual Agung Briyang: Di rayakan setiap 3 tahun sekali pada purnamaning sasih kedasa kalender Hindu Bali, perayaan ini hanya ada di desa tua Sidetapa Buleleng, lokasi desa ini sekitar 40 km barat laut kota Singaraja. Tujuan mengadakan upacara Agung Briyang adalah untuk melawan dan roh-roh jahat.
- Ngelawang: Salah satu ritual menolak bala di Bali yang dilakukan diantara hari raya Galungan dan Kuningan, beberapa tempat masih mengamalkan tradisi ini ada juga yang tidak, namun nilai budaya ini sudah diterapkan sejak kecik pada kanak-kanak yang menyertai ritual ini.
Keseluruhan multi festival & budaya serta sejarah Pulau Bali ini boleh dihayati dengan menonton Bali Theater yang bertajuk Ulasan Wisatawan di Agung Theater, Jl. Bypass Prof. Ida Bagus Mantra. Km. 19.8, Bali, Indonesia.
| Saat menjamu mata melihat keindahan sunset sementara menunggu upacara spritual Kecak & Fire Dance bermula. |
You know what?? tidak satu upacara yang disenaraikan di atas tu pun yang kami saksikan semasa di Bali kerana kami datang bukan pada waktu yang sesuai untuk upacara-upacara tersebut namun tour guide kami (Pak Miko) sempat bawa kami menyaksikan satu ritual Kecak & Fire Dance di atas puncak Uluwatu Tample menjelang senja saat matahari membenamkan dirinya.
Tiket Rp70,000 upacara bermula jam 7.30 waktu indonesia. Dimulakan dengan sebuah bulatan kecil lalu dikuti dengan bulatan yang lebih besar oleh seramai 150 atau lebih. Mereka lazimnya akan melilit kain dipinggang dan melaungkan "cak". Diikuti oleh persembahan dengan melontar senjata mereka bagi menggambarkan sebuah pertempuran yang mana seekor monyet yang dikenali sebagai Vanara membantu Putera Rama dalam menentang kejahatan Raja Ravana. Penghayatan yang tinggi dalam Kecak & Fire Dance ini boleh mendorong penganutnya berada dalam keadaan separuh sedar.
| Sekitar proses pemujaan Kecak & Fire Dance bermula |
Persembahan kebudayaan lain yang sempat kami saksikan semasa di Bali adalah Barong Dance yang amat terkenal di Bali. Apa yang cuba disampaikan di dalam theater ini adalah perjuangan antara roh baik dan jahat.
| Roh Jahat dari Hutan |
Perjuangan pun bermula dengan gabungan antara bala tentera Erlangga dan Barong. Lalu Ibunya Rangda telah menyihir tentera Erlangga menjadi kerasukan lalu menikam keris beracun pada diri sendiri. Melihat keadaan tersebut Barong mula menukar tentera Erlangga menjadi kebal. Akhirnya, Barong telah menang dalam pertarungan tersebut. Rangda (ibunya) melarikan diri ke dalam hutan.
Topeng Barong dan Rangda adalah sangat digeruni maka itu pawang (tok bomoh) akan muncul di akhir persembahan ini bagi menawarkan dan membuang semangat Rangda yang jahat itu dengan menggunakan percikan air suci yang diambil dari Gunung Agung. *mistiknya..!!!*
No comments:
Post a Comment